Dua Bocah Paceda Jadi Simbol Cinta Generasi Muda pada Bahasa Tidore
FOTO: Raffaditia M. Taib dan Algafar Rustam (Juara 1 Lomba Dialog Bahasa Tidore di Festival Kebudayaan Paceda)

TIDORE - Tepuk tangan panjang pecah di arena Festival Kebudayaan Paceda saat dua anak peserta lomba dialog Bahasa Tidore diumumkan sebagai juara 1 pada penutupan festival di Dusun Paceda, Oba Tengah, Kota Tidore Kepulauan, Sabtu (16/5/2026).

Dua peserta cilik tersebut yakni Raffaditia M. Taib (9 tahun) dan Algafar Rustam (12 tahun). Keduanya berhasil meraih juara satu setelah sebelumnya tampil dalam lomba dialog Bahasa Tidore yang menjadi salah satu rangkaian Festival Budaya bertajuk “Sorame Gam Ngofa Loa Ma Munara.”

Di tengah semakin berkurangnya penggunaan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari, kemenangan dua peserta cilik tersebut menyimpan pesan tentang kecintaan generasi muda terhadap bahasa daerah sekaligus menjadi simbol bahwa di Paceda Bahasa Tidore masih dicintai oleh anak-anak.

IKLAN

Meski hanya satu kelompok yang keluar sebagai juara utama, penampilan seluruh peserta lomba tetap mendapat apresiasi masyarakat. Anak-anak yang ikut tampil dianggap telah menunjukkan bahwa generasi muda Paceda masih memiliki kecintaan terhadap Bahasa Tidore dan tidak malu menggunakan bahasa daerah mereka sendiri.

Banyak warga mengaku tersentuh melihat anak-anak masih mampu menggunakan Bahasa Tidore dengan baik di tengah dominasi bahasa modern dan pengaruh media sosial.

Orang tua Raffaditia, Muhdar Taib, mengaku bangga karena anak-anak masih mau belajar menggunakan Bahasa Tidore di tengah pengaruh media sosial dan budaya modern yang semakin kuat.

“Sekarang anak-anak lebih banyak pakai bahasa Indonesia atau bahasa dari media sosial. Jadi ketika mereka mau belajar bahasa Tidore itu sesuatu yang sangat membanggakan,” ujarnya.

Ia berharap, kegiatan seperti Festival Budaya Paceda terus dilaksanakan agar anak-anak memiliki ruang untuk mengenal budaya dan bahasa daerah mereka sendiri sejak dini.

“Kalau bukan sekarang diajarkan, nanti anak-anak bisa lupa dengan bahasa dan budaya sendiri,” tambahnya.

Menanggapi hal tersebut, Ketua panitia festival, Sintia Muhammad, mengatakan lomba dialog Bahasa Tidore sengaja dihadirkan untuk mendorong generasi muda lebih dekat dengan budaya dan bahasa leluhur mereka.

Menurutnya, bahasa daerah bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga menyimpan sejarah, nilai hidup, dan identitas masyarakat yang diwariskan turun-temurun.

“Kalau bahasa daerah hilang, maka perlahan kita juga kehilangan sebagian jati diri masyarakat. Karena itu kami ingin anak-anak ikut menjadi penjaga bahasa leluhur,” kata Sintia.

Ia berharap Festival Budaya Paceda tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial tahunan, tetapi menjadi ruang belajar budaya bagi generasi muda di Oba Tengah dan Kota Tidore Kepulauan secara umum.

Festival Budaya Paceda sendiri resmi ditutup setelah berlangsung selama 4 hari dengan berbagai agenda seni tradisional, permainan rakyat, pameran UMKM, hingga perlombaan budaya yang melibatkan masyarakat lintas generasi. (Red/Mediasi Tikep)

Redaksi Mediasi
Aktual • Terpercaya • Inspiratif | @Syarif Noh
36 Views