Menjadi salah satu mahasiswa yang mendapat kesempatan melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tahap I Tahun 2026 Universitas Khairun di Kelurahan Tambula, Kota Tidore Kepulauan, adalah anugerah yang tak pernah saya bayangkan akan meninggalkan jejak sedalam ini. Awalnya saya mengira KKN hanyalah sebuah kewajiban akademik yang harus diselesaikan. Namun kini, ketika hari-hari itu sudah berakhir, saya sadar bahwa yang akan saya bawa pulang bukan sekadar laporan kegiatan, melainkan potongan-potongan kenangan yang akan tinggal selamanya di dalam hati.

Hari pertama menginjakkan kaki di tanah Tambula masih begitu jelas dalam ingatan. Alamnya menyambut kami dengan keheningan yang menenangkan. Jalan-jalan berkelok membelah hamparan hijau, angin membawa aroma rempah yang khas, sementara langit seolah membentangkan lukisan paling indah tentang wajah asli Maluku Utara. Saat itu saya berpikir, betapa beruntungnya kami dipertemukan dengan tempat seindah ini. Saya belum tahu bahwa keindahan terbesar Tambula ternyata bukan pada alamnya, melainkan hati orang-orang yang tinggal di dalamnya.

Sebelum berangkat, saya menyimpan banyak kekhawatiran. Saya bertanya-tanya dalam hati, apakah kami akan diterima? Apakah kehadiran kami akan dianggap berarti? Namun semua kecemasan itu runtuh dalam hitungan menit. Saat kami menurunkan barang bawaan, senyum hangat warga sudah lebih dulu menyapa. Tangan-tangan mereka terulur tanpa diminta, membantu mengangkat barang, menunjukkan tempat tinggal kami, dan mengantar kami mengenal setiap sudut kampung. Para pemuda dengan penuh semangat menemani kami berkeliling, memperkenalkan lingkungan, menjelaskan batas wilayah, dan bercerita tentang kehidupan di Tambula seolah kami bukan orang asing, melainkan keluarga yang telah lama dinanti kepulangannya.

Saat itulah saya memahami bahwa tidak semua tempat menyambut pendatang dengan kehangatan seperti ini. Tambula melakukannya dengan tulus. Sedikit demi sedikit rasa canggung menghilang, berganti dengan rasa nyaman yang sulit dijelaskan. Kami tidak lagi merasa sebagai tamu yang hanya singgah beberapa minggu atau bulan, tetapi seperti anak-anak yang pulang ke rumah kedua.

Bagi saya, sambutan itu bukan sekadar bentuk keramahan. Ia adalah cerminan budaya, nilai kekeluargaan, dan ketulusan yang masih hidup di tengah masyarakat Tambula. Mereka mengajarkan bahwa menerima orang lain tidak selalu membutuhkan hubungan darah. Cukup dengan hati yang lapang, seseorang bisa menjadi keluarga.

Ketika menyusun program kerja sebelum berangkat, semua rencana kami lahir dari teori, diskusi, dan bayangan di atas kertas. Namun sesampainya di lapangan, saya belajar bahwa kehidupan nyata jauh lebih kompleks daripada apa yang diajarkan di ruang kuliah. Tidak semua yang kami rancang bisa langsung diterapkan. Kami membutuhkan masukan, dukungan, dan kebersamaan dari masyarakat.

Di sanalah pemuda, pemudi, dan Karang Taruna Tambula menjadi bagian yang tak tergantikan. Mereka tidak hanya membantu menjalankan program, tetapi berjalan bersama kami, berbagi tenaga, pikiran, bahkan tawa. Bersama mereka, kami belajar bahwa pengabdian bukan tentang siapa yang paling banyak bekerja, melainkan tentang bagaimana banyak hati dipersatukan untuk tujuan yang sama. Apa yang kami lakukan mungkin sederhana, tetapi akan selalu terasa istimewa karena lahir dari kebersamaan. Tambula telah mengajarkan kami bahwa sejatinya rumah tak selalu tempat kelahiran.

Kini, tanpa terasa, perjalanan ini sudah selesai. Ada perasaan yang sulit dijelaskan setiap kali membayangkan hari perpisahan. Rasanya baru kemarin kami datang dengan wajah penuh rasa asing, tetapi kini kami harus pulang sambil meninggalkan orang-orang yang sudah terasa begitu dekat. Berat rasanya membayangkan jalan-jalan yang setiap hari kami lewati akan kembali sunyi tanpa langkah kami, tawa anak-anak yang biasa menyapa akan tinggal menjadi kenangan, dan rumah-rumah yang dulu selalu terbuka untuk kami hanya akan bisa kami lihat dalam ingatan.

Mungkin setelah kami kembali, kehidupan di Tambula akan berjalan seperti biasa. Anak-anak akan tetap bermain, para pemuda akan terus berkumpul, dan masyarakat akan kembali menjalani rutinitasnya. Tetapi saya percaya, akan ada sedikit ruang kecil yang pernah kami isi, sebagaimana Tambula kini telah memenuhi ruang yang besar di hati kami.

Perjalanan ini mengajarkan saya bahwa keberhasilan pengabdian bukan diukur dari banyaknya program yang terlaksana, melainkan dari hubungan yang terjalin, dari pelukan hangat saat bertemu, dari senyum tulus yang menghapus rasa asing, dan dari air mata yang mungkin akan jatuh saat harus mengucapkan selamat tinggal.

Terima kasih, Tambula. Terima kasih telah menerima kami bukan sebagai mahasiswa KKN, tetapi sebagai keluarga. Terima kasih telah mengajarkan arti ketulusan, kebersamaan, dan kasih sayang yang tak pernah diajarkan di ruang kuliah. Meski raga kami tak lagi di tanah ini, tapi sebagian hati kami akan tetap tinggal dan hidup di tanah Tambula.

Kelak, ketika nama Tambula kembali disebut, mungkin yang pertama hadir bukan soal keindahan alamnya, melainkan wajah-wajah baik yang pernah mengajarkan kami arti sebuah rumah. Sebab sejatinya, ada tempat yang tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Ia akan selalu hidup di dalam hati, menjadi rindu yang tak pernah selesai, dan menjadi alasan untuk suatu hari nanti kembali mengetuk pintunya sambil berkata, "Kami pulang."